Tentangsinopsis.com – Sinopsis 18 Again Episode 16 Part 2, Yuk tentukan baca belahan 1 untuk Episode sebelumnya baca di sini. Full dongeng lengkapnya perihal di goresan pena yang ini.


Setelah video Da Jung tersebar, karyawan JBC sibuk meladeni telepon orang-orang. Mereka bilang, Da Jung sudah tak kerja di sana lagi.
Ja Young : Aku ada disana, tapi….
Ki Tae : Aku tidak disana…
Yu Mi yang menyaksikan itu, malah tersenyum.


Ternyata Yu Mi lah yang menggunggah video itu. Dia mengunggahnya dikala semua orang sudah pulang.
Tapi Yu Mi tak mengaku dikala Pak Heo dan Ki Tae tanya, apa beliau yang mengunggah video itu.
Tak mau ditanyain lagi, Yu Mi pun bilang mesti syuting dan beranjak pergi.


Tapi mereka tahu Yu Mi pelakunya.
Ja Young : Menurutmu beliau sengaja melakukannya?
Ki Tae : Tidak mungkin.

Pak Moon datang. Dia juga percaya itu ulah Yu Mi.
Pak Heo bilang mereka tidak mempunyai bukti kalau Yu Mi pelakunya.
Pak Heo kemudian tanya, apa yang mesti mereka lakukan.
Pak Moon : Panggil beliau ke ruanganku dikala beliau kembali.
Pak Heo : Kau akan memarahinya?
Pak Moon : Memarahi dia? Ini hal terbaik yang dijalankan Bu Kwon sejak melakukan pekerjaan di sini. Aku akan menyampaikan itu kerja bagus.
Pak Heo : Kau mengagumkan, Pak Moon.


Ki Tae bilang, komentar orang-orang di video Da Jung juga bagus.
Ki Tae membacanya.
Ki Tae : Wanita keadilan sejati. Video luar biasa. Sangat memuaskan. Aku tidak akan mengubah terusan jikalau saya lihat penyiar Jung di TV.
Ada juga komentar yang mengatai JBC.
“JBC, kalian bodoh! Siapa yang memecatnya? Panggil direkturnya kemari! Direktur kurang cerdas itu! Ini semua salah sutradara!”
Ja Young berupaya menghentikan Ki Tae alasannya merupakan gak lezat sama Pak Moon di belakang mereka.


Ki Tae gres berhenti membaca komentar dikala menoleh ke belakang, menyaksikan Pak Moon.
Pak Moon pergi.
Pak Heo memandang kesal Ki Tae. Mulutmu itu…

Sampai malam harinya, Da Jung masih sibuk memperoleh telepon terkait videonya. Stasiun televisi berlomba-lomba memanggil Da Jung. Da Jung mencatat nama stasiun tv yang mengundangnya.
Dae Young keluar dari kamarnya dan mendekati Da Jung.
Dae Young : Kau diundang tampil di program ini?
Da Jung : Ya. Aku bahkan tidak tahu apa yang terjadi.
Dae Young : Apa maksudmu? Kerja kerasmu akibatnya terbayar.
Da Jung : Kurasa sudah waktunya bagiku untuk melakukan pekerjaan keras.
Ponsel Da Jung suara lagi. Da Jung merasa lelah.
Dae Young : Astaga. Tidak sanggup begini. Kita mesti mencarikanmu manajer.
Da Jung : Manajer?

Dan manajernya merupakan Dae Young!! Wkwkwkw….
Dae Young mengirimkan Da Jung ke JBC. Sampai disana, para wartawan pribadi berkerumun, berebut mewawancarai Da Jung.
Dae Young pun sewot.

Dae Young : Diam! Tolong hati-hati. Tidak ada lagi yang sanggup kami katakan perihal video itu. Tolong minggir. Beri jalan!
Dae Young melindungi Da Jung dari wartawan.

Dae Young : Kau niscaya takut.
Da Jung : Aku baik-baik saja.
Dae Young : Percayalah kepadaku. Aku akan menghentikan semua orang yang menghalangimu.
Da Jung senang, terima kasih.

Perwakilan dari program olahraga tengah melobi Da Jung.
“Acara di mana bawah umur berguru olahraga dari atlet profesional?” tanya Da Jung.
“Ya. Kau punya pengalaman dalam melaksanakan wawancara atlet Kami ingin kamu bergabung dengan tim kami.”
Da Jung berterima kasih dan menyampaikan akan melakukan pekerjaan keras.

Dae Young masuk, menenteng kopi.
Perwakilan program itu tanya siapa Dae Young.
Dae Young bilang beliau manajer Da Jung.
“Bagus. Kami gres saja membahas jadwal.”
Dae Young pun pribadi memerintahkan Da Jung keluar untuk istirahat. Dia bilang, beliau yang mau mengambil alih.
Da Jung menurut.
Dae Young pribadi duduk membahas jadwal Da Jung.


Begitu keluar, Da Jung berjumpa Yu Mi yang kelihatannya sengaja tiba untuk melihatnya.

Da Jung dan Yu Mi bicara di kantin.
Da Jung : Video itu, kamu yan mengunggahnya bukan.
Yu Mi mengaku, ya.
Da Jung : Itu juga sanggup membahayakan dirimu. Kenapa kamu mengunggahnya?
Yu Mi : Sebenarnya, saya sungguh kejam kepadamu. Tapi kamu akibatnya dipecat alasannya merupakan kamu membantuku. Maafkan aku.
Da Jung : Tidak perlu. Tapi kamu tidak perlu mengunggah sesuatu seumpama itu.


Yu Mi : Aku mempertimbangkan apa yang mungkin kulakukan jikalau kakakku berada dalam suasana itu. Hanya ini yang sanggup kupikirkan.
Da Jung : Terima kasih. Mari makan bareng lain kali. Aku yang traktir.
Yu Mi : Kedengarannya bagus, Eonni.


Dae Young keluar dari gedung JBC dan menyaksikan Da Jung tengah bangun menunggunya.
Dae Young termenung dan memandang Da Jung dengan tatapan bahagia.

Da Jung menghampiri Dae Young.
Da Jung : Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu cuma bangun di sana?
Dae Young : Karena saya bahagia.
Da Jung : Tentang apa?
Dae Young : Saat melihatmu dari sini, saya senang tidak perlu kalut andai kamu melihatku. Dan saya senang alasannya merupakan tidak perlu menghasilkan argumentasi payah untuk mengatakan denganmu. Aku juga senang kamu menungguku. Aku akan jujur mulai sekarang. Beberapa hal masih mesti dibilang di antara pasangan. Seorang pembaca info terkenal menyampaikan hal itu.
Da Jung dan Dae Young tersenyum bahagia.
Dae Young kemudian mengajak Da Jung pergi.


Dae Young berlangsung di koridor Serim. Dia kemudian berjumpa Si A, Bo Bae dan Young Sun .
Young Sun dan Bo Bae pribadi diam. Mereka pikir akan dimarahi Dae Young, namun Dae Young malah tersenyum.
Dae Young : Senang berjumpa kalian. Sudah usang tidak bertemu.
Bo Bae dan Young Sun terkejut tidak dimarahi.

Si A : Ayah ke sini untuk bicara soal kuliahku?
Dae Young : Ya.Kalian mau ke mana? Ke kafetaria kudapan?
Si A : Bagaimana ayah tahu?
Dae Young : Jika kalian ke sana siang-siang begini, niscaya kafetaria kudapan.
Dae Young memberi mereka duit untuk berbelanja makanan enak.
Bo Bae sungkan menerimanya.
Dae Young : Jangan malu. Kalian masih dalam masa pertumbuhan. Makan yang banyak dan belajarlah yang giat.

Bo Bae mengambilnya, namun kemudian beliau merasa pernah mendengar kata-kata Dae Young itu.
Dae Young pun pergi.


Young Sun : Hei, itu baru? Ayahmu umumnya memarahimu.
Si A : Apa maksudmu? Dia menyampaikan itu demi kebaikanku.
Si A tersenyum.
Dae Young menemui Bu Ok. Bu Ok sendiri terkejut Dae Young datang.
Bu Ok : Aku tidak tahu kamu akan datang, Pak Hong. Kudengar kamu di Busan.
Dae Young pun mengaku kalau beliau gres aja kembali ke Seoul.
Bu Ok : Kalau begitu, kamu niscaya tidak tahu keputusan Si A demi kariernya.
Dae Young : Aku tahu.
Bu Ok : Dan Si A tidak bertujuan untuk kuliah?
Dae Young : Ya.
Bu Ok lantas tanya, apa Dae Young gak sedih tahu Si A gak mau kuliah.
Dae Young bilang, mulanya beliau sedih namun alasannya merupakan ada hal lain yang dikehendaki Si A, ia pastikan mendukung keputusan Si A.
Mendengar itu, Bu Ok pun memuji Dae Young. Dia bilang, Dae Young ayah keren.
Bu Ok : Kupikir kamu akan menentangnya. Aku berupaya mencari cara untuk membujukmu. Aku aib mempertimbangkan itu.
Dae Young : Astaga. Tidak. Aku mesti berterima kasih alasannya merupakan menyaksikan ini dari perspektif Si A.
Bu Ok : Astaga, tidak masalah.
Dae Young kemudian bangun dan mengucapkan terima kasih pada Bu Ok alasannya merupakan sudah menolong Si A dengan baik.
Dae Young kemudian pamit dan pergi.
Bu Ok bersumpah kalau beliau pernah menyaksikan Dae Young di suatu kawasan namun beliau gak ingat dimana. Wkwkwkwk….
Si Woo main basket malam-malam di lapangan.
Tiba-tiba, beliau kepikiran Woo Young.
Flashback…
Si Woo mengajak Woo Young mengungguli babak penyisihan biar sanggup masuk Universitas Hankuk.
Tapi Woo Young bilang, beliau gak sanggup masuk Hankuk.
Si Woo kaget, apa maksudmu?
Woo Young : Aku akan kembali ke Amerika secepatnya.
Si Woo : Ke Amerika?
Woo Young : Ya.
Si Woo : Bagaimana saya sanggup melaksanakan ini tanpamu?
Woo Young : Si Woo-ya, kamu sanggup menjadi lelaki keren tanpa pertolongan siapapun. Sekarang, kamu punya teman-teman dari tim basket.
Si Woo : Kau tidak akan menyesal jikalau tidak kuliah di Universitas Hankuk?
Woo Young bilang enggak alasannya merupakan ada terlampau banyak hal yang ia sayangi lebih dari basket namun ia telat menyadarinya.
Woo Young : Itulah yang paling kusesali. Kau mesti senantiasa menjalani harimu dengan maksimal. Dan jangan pernah lupakan orang terkasih di sekitarmu. Aku ingin kamu ingat hari-harimu selaku dewasa berusia 18 tahun yang sarat ingatan indah, bukannya penyesalan.
Woo Young kemudian merangkul Si Woo.
Flashback end…
Si Woo merindukan Woo Young.
Tiba-tiba, seseorang memanggil namanya. Dia pikir itu Woo Young, namun pas berbalik, yang dilihatnya ayahnya.
Dae Young : Kerja bagus. Ayah juga cukup cerdas bermain basket.
Sontak, kata-kata Dae Young kalau beliau juga cukup cerdas bermain basket mengingatkan Si Woo pada Woo Young alasannya merupakan Woo Young juga pernah menyampaikan hal yang sama.
Si Woo pun bingung.
Melihat ekspresi Si Woo, Dae Young pikir Si Woo gak percaya beliau cerdas main basket.
Dae Young : Berikan bolanya pada ayah. Bagaimana? Siapa pun yang mencetak sepuluh poin lebih dulu mendapat minuman gratis.
Si Woo : Aku setuju.
Dae Young : Bagus. Ayah tidak akan segan-segan.
Si Woo : Aku juga.
Ayah dan anak itu mulai bertanding.

Sekarang, mereka duduk di pinggir lapangan sambil minum minuman kaleng.
Dae Young pun berkata, astaga. Nyaris saja.
Sepertinya Dae Young kalah.
Dae Young : Tubuhku terasa sakit.


Si Woo kemudian bilang, kalau main basket sama ayahnya bikin beliau ingat Woo Young.
Dae Young terpana mendengarnya, Woo Young?
Si Woo : Ya. Dia temanku yang senantiasa di sampingku setiap saya membutuhkannya.


Mendengar itu, Dae Young pun minta izin untuk mengambil posisi Woo Young.
Si Woo terkejut mendengarnya, appa.
Dae Young : Saat kamu membutuhkanku, ayah akan menemanimu.
Si Woo tersenyum, kedengarannya bagus.
Habis main basket sama Si Woo, Dae Young dan Da Jung duduk di tangga menikmati bir.

Dae Young bilang rasanya gres kemarin kedua balita mereka merangkak di studio kecil mereka.
Dae Young : Waktu cepat berlalu, bukan?
Da Jung : Benar.


Dae Young : Memperlakukan waktuku bareng kalian selaku penyesalan merupakan kesalahan paling besar dalam hidupku.
Da Jung : Tunggu. Jangan bilang kamu menyesal lagi sekarang.
Dae Young : Ada satu hal yang kupelajari sehabis kembali muda.
Da Jung : Apa itu?
Dae Young : Berapa pun usiamu, senantiasa ada hal gres untuk dipelajari. Jika kamu menganggapnya penyesalan, tamatlah sudah. Tapi dikala kamu menganggapnya selaku pelajaran, ini menjadi permulaan yang baru. Aku akan menjajal berguru lebih banyak mulai kini baik soal pekerjaan, kehidupan, atau cinta. Jadi, saya akan menjajal mencari hal yang kusukai lagi.
Da Jung : Itu bagus. Aku juga ingin memberitahumu itu.
Dae Young : Ya. Aku akan menghabiskan hidupku tanpa penyesalan.
Da Jung : Ya. Kita belum terlambat. Mari pelajari semua yang kita harapkan dan menghargainya.

Dae Young : Ada banyak hal yang ingin kulakukan bersamamu. Kau akan ikut denganku, bukan?
Da Jung : Tentu saja. Aku tidak sabar.

Keduanya pun tersenyum satu sama lain.
Dae Young lantas merangkul Da Jung. Keduanya kemudian sama-sama memandang ke arah bulan.

Dae Young dan Da Jung masuk ke rumah.
Tapi Da Jung sibuk menyaksikan sesuatu.
Dae Young yang menyaksikan itu, tanya apa yang Da Jung lihat. Da Jung pun menyediakan apa yang dilihat. Dua tiket bisbol dan suatu surat.


Dae Young membaca suratnya.
“Ini tanda terima kasih terhadap Pak Hong Dae Young. Silahkan tiba bersama.”
Dae Young bingung, tanda terima kasih? Apa artinya ini?
Da Jung pun cerita, sebenarnya….
Bersambung ke part 3………