Tentangsinopsis.com – Sinopsis 18 Again Episode 6 Part 4, Baca jikalau Kalian ingin menyaksikan dari bab full episode silahkan di goresan pena yang ini. Jika Kalian suka dan ingin menyaksikan part 3 Episode sebelumnya baca di sini.


Ji Hoon sedang nge-gym di saat Da Jung menelponnya.
Ji Hoon tersenyum lebar membaca nama Da Jung di layar ponselnya. Dia bahagia Da Jung menghubunginya.


Ji Hoon : Astaga, kenapa kamu menelpon pagi ini?
Da Jung keluar dari rumahnya, menenteng paper bag yang tentunya berisi sepatu bantuan Ji Hoon.
Da Jung : Sepatu yang kamu berikan waktu itu. Kurasa ini terlalu mahal untuk kuterima selaku niat baik.
Ji Hoon : Astaga. Sudah kubilang, saya tidak membutuhkannya.


Da Jung : Kalau begitu, saya akan membayarnya.
Tak mau menghasilkan Da Jung marah, terpaksa lah Ji Hoon memerintahkan Da Jung menenteng sepatunya ke stadion bisbol nanti.
Da Jung : Baiklah, hingga nanti.


Ji Hoon kemudian tanya ke rekannya, pukul berapa rekannya diwawancara nanti.
Rekannya bilang pukul 3 sore.
Ji Hoon senang. Dia fikir Da Jung yang mau mewawancarai rekannya.


Yu Mi gres aja selesai dengan wawancaranya. Ji Hoon ke lapangan, mencari Da Jung.
Ji Hoon : Kupikir Pembaca Berita Jung tiba hari ini.
Yu Mi : Aku akan melaksanakan wawancara mulai sekarang.
Ji Hoon kaget, kenapa?
Yu Mi : Karena info ihwal perceraian Da Jung, ia menghasilkan kesal semua orang di JBC. Kenapa ia mesti bercerai dan menurunkan reputasinya menyerupai itu?
Ji Hoon pun kesal dengan omongan Yu Mi. Dia tanya, apa perceraian sanggup menurunkan reputasi seseorang.
Yu Mi : Dia mungkin mempunyai kendala jikalau bercerai, bukan? Pembaca info juga tokoh masyarakat.
Ji Hoon : Aku tokoh masyarakat, jadi, saya tahu ini. Reputasi runtuh jauh lebih gampang dengan menyampaikan hal yang salah ketimbang bercerai.
Yu Mi : Apa?


Ji Hoon : Bagi sebagian orang, bercerai mungkin info besar, namun bagi orang lain, itu keputusan besar.
Yu Mi termenung mendengar kata-kata Ji Hoon.
Ji Hoon : Aku kalut di saat orang mendengarmu menyampaikan itu, itu sanggup menghancurkan reputasimu.

Ji Hoon pergi.
Yu Mi kesal Ji Hoon membela Da Jung.


Si Woo yang lagi jalan di halaman sekolah, menyaksikan Woo Young dengan seorang ibu.
Ibu itu tidak sanggup bicara. Dia menanyakan dimana ruang guru untuk tingkat 11 dengan bahasa isyarat.
Dengan bahasa isyarat, Woo Young ngasih tahu kantor guru tingkat 11 ada di lantai dua.
Setelah ibu itu pergi, Si Woo nyamperin Woo Young.
Si Woo gak nyangka Woo Young cerdas bahasa isyarat. Dia memuji Woo Young serba bisa.
Woo Young : Ini bukan apa-apa.

Si Woo : Woo Young-ah, saya mesti berguru analisa keterampilan, jadi, tidak sanggup latihan malam ini.
Woo Young : Penilaian keterampilan?
Si Woo : Ya, analisa besok merupakan cobaan matematika. Kau belum melakukannya?
Woo Young : Aku mesti mengusahakannya.
Si Woo : Kau tidak melakukannya?

Si Woo kemudian ngajak Woo Young mengerjakannya di rumahnya.
Woo Young bahagia dan eksklusif mengiyakan.
Woo Young mengajak Si Woo ke rumahnya.

Woo Young menaruh sekotak camilan manis di atas meja.
Si Woo bilang, Woo Young gak perlu bawa apapun ke rumahnya.
Woo Young : Bagaimana bisa?
Si Woo : Tidak seorang pun di keluarga kami menyantap ini.
Woo Young : Astaga, kamu tidak tahu.

Woo Young kemudian melihat-lihat rumahnya dan mendapatkan setumpuk piring kotor.
Woo Young eksklusif mencucinya.
Si Woo menyaksikan itu tanya Woo Young mau apa.
Woo Young : Si Woo-ya, kamu sanggup belajar. Aku akan mencuci piring.
Si Woo bingung, apa?
Woo Young : Tidak apa-apa. Belajar.

Da Jung pulang. Dia eksklusif mengomeli Dae Young yang kerjaannya cuma minum-makan-nonton di matanya.
Dae Young bilang, itu hari liburnya.
Dae Young : Biarkan saya minum.
Da Jung : Kenapa kamu tidak sanggup bersih-bersih? Memang ada tukang bersih-bersih?
Dae Young : Biarkan saja. Aku akan bersih-bersih nanti.
Da Jung : Kapan?
Dae Young : Setelah ini.
Da Jung : Berapa sering kamu melaksanakan pekerjaan rumah?
Dae Young agak termenung mendengar pertanyaan Da Jung. Tapi setelahnya ia bilang 50 persen.

Da Jung membantah. Tidak, lebih menyerupai 30 persen.
Dae Young : Apa? Itu terlalu sedikit.
Da Jung tambah murka dan mematikan tivi.
Dae Young sewot. Da Jung gak peduli dan masuk kamar.
Dae Young nyalain tivinya lagi dan lanjut nonton pertarungan bisbol.

Semua itu cuma lamunan Woo Young.
Woo Young pun bergumam, menyebut dirinya mengenaskan alasannya tidak melaksanakan 30 persen yang dikatakan Da Jung.


Si Woo memandang Woo Young.
Si Woo : Woo Young-ah, kamu tidak menjalankan penilaianmu?
Woo Young : Aku baik-baik saja. Kau sanggup terus belajar.
Woo Young lanjut nyuci piring.


Si A pulang, sama Bo Bae.
Woo Young menegur Si A. Kau sudah pulang?
Si A eksklusif nyolot menyaksikan Woo Young.
Si A : Apa yang kamu lakukan!
Bo Bae memuji Woo Young. Dia bilang Woo Young kandidat suami yang baik.
Si A memandang sewot Bo Bae.

Si A : Calon suami? Mana mungkin. Kau pikir mencuci piring di rumah orang lain itu normal?
Woo Young tanya, apa Si A sudah makan.
Si A : Kenapa kamu peduli? Memang kamu ayahku?
Woo Young termenung mendengar kata Si A, namun abis itu ia nyengir.
Si A mengajak Bo Bae menonton tivi sebelum menjalankan penilaian.

Si A dan Bo Bae nonton pertarungan bisbolnya Ji Hoon.
Si A : Itu Ji Hoon kita.
Si A juga memuji Ji Hoon hebat.


Woo Young pun sewot.
Woo Young : Apa? Ji Hoon kita? Dia lelaki tua! Dan tentunya bukan milikmu.
Si A : Memangnya kamu siapa sanggup mengaturku?
Woo Young gemes. Dia kepengen bilang kalau ia itu ayah Si A namun gak bisa.

Akhirnya Woo Young cuma sanggup bilang kalau lelaki menyerupai Ji Hoon merupakan lelaki yang mesti Si A waspadai.
Si A kian sewot, apa?

Ponsel Woo Young bunyi. Telepon dari emaknya Da Jung. Woo Young pun eksklusif kabur ke kamar mandi.
Si A kian kesal, siapa ia menyampaikan itu ihwal Ji Hoon!


Di kamar mandi, Woo Young menjawab telepon dari ibu mertuanya.
Woo Young : Ya, ibu?
Sang ibu mertua sewot alasannya Dae Young tentukan cerai tanpa mendatanginya apalagi dahulu.
Woo Young minta maaf.
“Terserah. Kau dimana?”

Woo Young ngaku masih di Busan.
“Masih?”
“Maafkan aku.”
“Bukankah sudah sebaiknya meminta maaf secara langsung?”
“Maafkan aku. Aku akan secepatnya pergi menemui ibu.”
“Terserah. Sampai jumpa.”

Mak nya Da Jung mutusin teleponnya gitu aja.
Lalu ia masuk ke tempat tinggal Da Jung. Wkwkwk….

Woo Young memandang cermin di toilet. Dia bingung, segera? Bagaimana saya akan minta maaf dengan wajah ini?

Si A dan Si Woo mengajak neneknya masuk.
Si Woo : Nenek niscaya letih sesudah perjalanan panjang.
Si Woo : Kenapa nenek tidak mengontak sebelum datang?
Nyonya Yeo : Aku cuma ingin mengagetkan cucu-cucuku.


Nyonya Yeo menenteng kopernya, melintasi kamar mandi. Bersamaan dengan itu, Woo Young keluar dari kamar mandi. Keduanya sama-sama kaget.
Melihat Nyonya Yeo, Woo Young eksklusif membungkukkan badannya dan meminta maaf.
Nyonya Yeo terus memperhatikan Woo Young. Woo Young nutupin mukanya pake tangan.


Si Woo ngenalin Woo Young ke neneknya. Dia bilang ke neneknya Woo Young temennya dan ke Woo Young, ia bilang Nyonya Yeo neneknya.
Woo Young kemudian nyengir memandang Nyonya Yeo.
Woo Young : Halo.
Setelah itu, ia bilang ke Si Woo kalau ia mesti pergi.
Woo Young ngambil tasnya dan tergesa-gesa pergi.


Nyonya Yeo memandang Si A sambil menunjuk ke arah pintu.
Nyonya Yeo : Si A-ya, kamu mesti waspada dengan lelaki yang terlihat menyerupai itu.
Si A bingung, apa?



Woo Young masih diluar. Dia bangkit menyender ke pintu, berupaya nenangin hatinya.
Lampu teras kembali berkedip-kedip. Woo Young mendongak, menyaksikan lampu yang mau putus, kemudian pergi.
Tanpa ia sadari, si kuteks hitam kembali memotretnya.


Ji Hoon masih di lapangan di saat Da Jung datang. Da Jung menyaksikan Ji Hoon latihan sendirian.
Da Jung : Kau masih disini? Semua orang sudah pulang. Kau melakukan pekerjaan sungguh keras.
Ji Hoon : Aku jenuh di saat menunggumu.
Da Jung : Maaf saya tiba terlambat.
Ji Hoon tanya, apa Da Jung baik-baik saja.
Da Jung bilang iya dan nunjukin kakinya yang sudah sembuh padahal maksud Ji Hoon bukan soal kakinya.


Da Jung ngembaliin sepatu Ji Hoon.
Tapi Ji Hoon nyuruh Da Jung make sepatu itu sekali lagi.
Da Jung bingung, apa?
Ji Hoon : Bantu saya berlatih selagi kamu di sini.
Da Jung : Sekarang?
Ji Hoon : Katamu kamu berutang kepadaku. Pakai sepatunya dan kita main.


Ji Hoon menghibur Da Jung. Ia memerintahkan Da Jung konsentrasi memperhatikan bola yang mau ia lempar
Ji Hoon mulai melempar, namun bukan memukul, Da Jung malah berteriak takut.
Da Jung : Apa ini sungguh membantumu berlatih?
Ji Hoon : Tentu saja. Sekali lagi! Fokuslah sedikit lagi. Berdiri dengan mantap dan lemaskan bahumu.
Ji Hoon mulai melempar dan Da Jung sukses menghasilkan home run.
Da Jung senang. Ji Hoon tertawa menyaksikan Da Jung tertawa.


Ji Hoon mendekati Da Jung. Dia bahagia menyaksikan Da Jung senang. Tapi Da Jung tahu kalau Ji Hoon sengaja memberinya lemparan yang mudah.
Ji Hoon : Kau tetap memukulnya. Meski susah dan menghasilkan frustrasi, di saat terus berusaha, niscaya sukses sekali.
Da Jung : Ya.


Ji Hoon : Jangan takut cuma alasannya kamu mendapatkan strike. Kau tidak pernah tahu akan menghantam bola, mendapatkan bola, atau mencetak home run sebelum mengayunkan pemukulmu. Jadi, kamu mesti terus mengayunkan pukulan hingga akhir.
Mendengar rekomendasi Ji Hoon, Da Jung tanya, apa Yu Mi menginformasikan Ji Hoon. Ji Hoon : Begitulah. Da Jung curhat. Dia pikir, semua akan tepat sesudah ia menjadi pembaca berita.
Da Jung : Tapi melakukan pekerjaan di perusahaan tidak semudah itu. Setelah perceraianku menjadi keterangan publik, saya kehilangan semua posisiku. Aku berupaya bertahan, namun saya merasa kasihan terhadap anak-anakku. Belakangan ini, saya tidak percaya menjajal menjangkau impianku atau saya terlalu ambisius. Aku tidak tahu sekarang.


Ji Hoon : Apa salahnya menjadi ambisius? Sejak saya tentukan untuk menjadi pemain bisbol, saya senantiasa ambisius.
Da Jung tak percaya. benarkah? Kau?
Ji Hoon : Saat pemain lain mendahuluiku meski kupikir saya lebih baik, saya tidak sanggup tidur malam itu alasannya marah. Aku terlampau banyak berlatih, terluka, dan menghasilkan orang lain tidak nyaman. Tapi ada orang yang memercayaiku hingga akhir. Jadi, kamu mesti membidik tinggi. Keluargamu akan mendukungmu.
Da Jung pun berterima kasih atas wejangan Ji Hoon.
Ji Hoon : Sama-sama. Aku penggemar nomor satumu.

Mendengar Ji Hoon bilang kalau ia penggemar nomor satu Da Jung, Da Jung kaget. Dia teringat kado dan kartu ucapan dari penggemar nomor satunya. Dia pikir Ji Hoon lah yang memberinya sepatu itu. *Tapi apakah benar Ji Hoon? Karena ada Woo Young juga disana.

Ji Hoon lantas ingin menyampaikan sesuatu pada Da Jung, namun gak jadi gegara ponselnya bunyi.
Ji Hoon pun kaget.
Ji Hoon : Dia mungkin akan pulang. Kau mesti tetap di rumah. Aku akan mencarinya.
Usai mendapatkan telepon, Ji Hoon bilang pada Da Jung kalau ia mesti secepatnya pulang sekarang.


Da Jung tanya, apa yang terjadi.
Ji Hoon termenung sejenak sebelum jadinya menginformasikan Da Jung kalau putrinya menghilang.
Ji Hoon eksklusif pergi.
Da Jung kaget, putri?

Dalam perjalanan pulang, Ji Hoon sanggup telepon dari kantor polisi.
“Apa ini wali Ye Seo Yeon?”
Ji Hoon kaget, polisi?


Di kantor polisi, Seo Yeon terus menangis.
Seorang lelaki yang sedang duduk, meregangkan badannya.
Seorang detektif masuk dan memerintahkan lelaki itu pulang. Ternyata lelaki itu seorang reporter. Detektif bilang, Reporter Kim tidak akan mendapatkan info apapun malam itu jadi ia memerintahkan Detektif Kim pulang.
Reporter Kim : Baiklah. Aku mau ke toilet.


Bersamaan dengan itu, Ji Hoon datang. Reporter Kim terkejut menyaksikan Ji Hoon tiba-tiba timbul di kantor polisi.
Ji Hoon eksklusif mendekati Seo Yeon yang terus menangis.
Ji Hoon : Seo Yeon-ah, kamu baik-baik saja? Kau terluka? Kenapa kamu pergi tanpa menginformasikan kami?

Kedua detektif yang duduk di depan mereka, bingung. Mereka ingin tau hubungan Ji Hoon dan Seo Yeon.
Detektif bilang mereka mendapatkan Seo Yeon di depan RS Mirae dan Seo Yeon menenteng suatu foto.
Ji Hoon pun termenung menyaksikan foto yang dibawa Seo Yeon.
“Kau tahu siapa dia?”
Ji Hoon bilang perempuan di foto merupakan ibunya Seo Yeon.
Detektif tanya lagi apa hubungan Ji Hoon dan Seo Yeon.
Ji Hoon bilang ia ayahnya.
Sontaklah kedua detektif terkejut mendengarnya.


Ji Hoon kembali menyidik kondisi Seo Yeon.
Di belakang mereka, Reporter Kim bahagia memperoleh info bagus.


Seo Yeon sudah terlelap di gendongan Ji Hoon. Tapi tanpa Ji Hoon sadari, di saat ia gres keluar dari kantor polisi, ada reporter yang belakang layar memotretnya.


Besoknya, info soal Ji Hoon yang mempunyai seorang putri eksklusif masuk info JBC.
Da Jung yang sudah berada di seberang kantornya, menyaksikan orang-orang membicarakan Ji Hoon.

Di suatu rumah mewah, ibu Seo Yeon terkejut menonton info itu.
Suaminya datang.
“Dia punya anak?” tanya suaminya.
Ibunya Seo Yeon yang tak mau suaminya tahu soal Seo Yeon, eksklusif memerintahkan suaminya berangkat.

Setelah suaminya pergi, ibu Seo Yeon kembali menonton info itu. Di info disebutkan bahwa penduduk ingin tahu siapa ibu Seo Yeon.
Ibu Seo Yeon cemas.


Di kantor, Da Jung mendengar semua rekannya membicarakan Ji Hoon.
Da Jung yang cemas, mengirimi Ji Hoon pesan. Da Jung nanyain kondisi Ji Hoon. Dia juga bilang, kalau ia cuma kalut pada Ji Hoon dan putri Ji Hoon.

Ae Rin di kantornya, gak sanggup konsen kerja gara-gara ngeliat sandal dari Woo Young yang masih dipakainya.

Ae Rin eksklusif ingat pas Woo Young ngasih sandal itu ke dia.

Dia juga ingat pas Woo Young nolong ia yang nyaris jatuh.

Terakhir ia ingat pas sepayung berdua sama Woo Young.

Ae Rin berupaya keras supaya gak baper.

Ae Rin yang udah gak tahan lagi, jadinya menelpon Da Jung. Dia nunggu Da Jung menjawab panggilannya sambil merhatiin kakinya yang pakai sandal dari Woo Young.

Begitu Da Jung menjawab, ia eksklusif berdiri.
Ae Rin : Da Jung-ah, bisakah kita berjumpa sepulang kamu kerja?


Il Kwon mulai lagi merayu Bu Ok. Dia menampilkan dirinya mengirim Bu Ok pulang. Tapi Bu Ok menolak. Bu Ok bilang ia lebih senang jalan kaki.
Bu Ok pergi.

Il Kwon kesal ditolak lagi.
Il Kwon : Dia niscaya berpikir ia seorang ratu.

Bu Ok yang mau pulang, berjumpa Deok Jin. Bu Ok menyaksikan bunga yang dibawa Deok Jin.
Bu Ok : Ada apa kamu kemari?
Deok Jin : Aku perlu bicara denganmu. Mari kita bicarakan di mobilku.

Bu Ok menyaksikan ada limosin di akrab gerbang.
Bu Ok : Jangan bilang itu mobilnya.
Deok Jin bilang bukan.
Bu Ok celingukan nyari wilayah bicara.
Bu Ok : Mari kita bicara disana.
Bu Ok pergi duluan.

Deok Jin mengontak bodyguard nya yang mempertahankan limosin.
Deok Jin : Batalkan limosin itu!
Seketika, limosin pun pergi dibawa bodyguard Deok Jin.

Il Kwon tiba dan menyaksikan Bu Ok pergi sama Deok Jin.
Il Kwon : Ada apa dengan mereka?

Di lapangan, Deok Jin menyampaikan Bu Ok bunga yang dibawanya. Dia bilang, ia secara resmi mengajak Bu Ok berkencan.
Bu Ok eksklusif menjawab kalau ia juga menolak Deok Jin secara resmi.
Deok Jin tanya apa argumentasi Bu Ok menolaknya. Dia bilang ia akan mengalah jikalau Bu Ok memberinya respon yang masuk akal.
Deok Jin : Jika kamu punya pacar…
Bu Ok eksklusif bilang ia punya pacar.
Deok Jin gak percaya.
Bu Ok kekeuh punya pacar. Deok Jin masih menuding Bu Ok bohong.
Bu Ok kesal. Kenapa? Aku menyerupai tidak sanggup punya kekasih?
Deok Jin : Tidak.
Bu Ok pergi.


Setelah Bu Ok pergi, Il Kwon mendekati Deok Jin.
Il Kwon pun sengaja bilang ke Deok Jin kalau Bu Ok itu pacarnya.
Awalnya, Il Kwon menyebut Bu Ok dengan panggilan ‘Hye In ku’. Tentu saja, Deok Jin kaget.
Il Kwon akal-akalan keceplosan padahal ia sengaja. Lalu ia bilang ia terpaksa mengatakannya alasannya menilai Deok Jin teman.
Il Kwon : Aku mengencaninya. Dia tidak mau orang tahu kami berkencan alasannya kami kolega. Jangan beri tahu siapa pun. Ini cuma untuk telingamu.
Il Kwon pergi.

Da Jung menemui Ae Rin di kafe. Da Jung tanya, kenapa Ae Rin mau berjumpa dengannya.
Ae Rin mulai curhat.
Ae Rin : Begini, saya tak mau kamu salah paham.
Da Jung : Baiklah. Ada apa?
Ae Rin : Aku kenal seorang perempuan berusia 30-an. Kau tahu, ia terus bilang ia merasa berbunga-bunga di depan siswa SMA. Dia tidak sanggup berhenti memikirkannya. Dan jantungnya berdebar kencang.

Da Jung : Dasar gila.
Ae Rin : Tapi ia belum menikah.
Da Jung : Itu tidak penting sekarang. Dia suka anak di bawah umur. Astaga, itu sungguh menjijikkan.
Ae Rin depresi berat dengan respon Da Jung.
Ae Rin : Kau bilang “menjijikkan?”
Da Jung : Ya, benar. Bayangkan ia menggemari putraku.

Ponsel Da Jung bunyi. Telepon dari Ji Hoon. Da Jung eksklusif keluar untuk menjawab panggilan Ji Hoon.
Ae Rin mengantukkan kepalanya ke meja berkali-kali.

Diluar, Da Jung bicara dengan Ji Hoon. Ji Hoon bilang ia sudah membaca pesan Da Jung dan mengucapkan terima kasih.
Da Jung tanya apa Ji Hoon baik-baik saja.
Ji Hoon eksklusif ngajak Da Jung ketemuan.


Di kafe yang sama, Deok Jin lagi nangis.
Woo Young datang.
Deok Jin ngasih tahu Woo Young kalau pacarnya Bu Ok merupakan Il Kwon.
Woo Young kaget, Choi Il Kwon?
Deok Jin : Apa yang mesti kulakukan?
Woo Young : Hei, tidak apa-apa. Kau memang tidak mempunyai potensi dengannya.
Mendengar respon Woo Young, Deok Jin sewot.
Deok Jin : Apa? Hong Dae Young! Teganya temanku sendiri berkata begitu!

Ae Rin mendengar nama Dae Young disebut-sebut.
Deok Jin masih nangis. Dia bilang harusnya yang jadi lebih muda itu ia bukan Dae Young.
Deok Jin : Kenapa kamu mujur menyerupai itu!
Woo Young : Kau pikir ini anggun untukku? Aku bahkan tidak sanggup menginformasikan Da Jung. Aku cuma sanggup berada di dekatnya.

Deok Jin mengajak Woo Young minum.
Tiba-tiba, Ae Rin datang.
Ae Rin : Woo Young-ah, kamu Hong Dae Young?
Woo Young dan Deok Jin terkejut Ae Rin tiba-tiba timbul di depan mereka.
Ae Rin tak percaya. Dia pikir ia sudah mulai ajaib gara-gara baper sama Woo Young.
Woo Young keceplosan.
Woo Young : Ae Rin-ah, bukan begitu.

Ae Rin : Ae Rin-ah?
Woo Young pun panic. Dia mau jelasin, namun sadar tidak ada gunanya.

Da Jung datang. Da Jung bilang ke Ae Rin kalau ia mesti pergi.
Ae Rin bilang tunggu. Woo Young dan Deok Jin yang tak mau Ae Rin ngasih tahu Da Jung, eksklusif memerintahkan Da Jung pergi.


Ae Rin kian curiga kalau Woo Young merupakan Dae Young.
Da Jung pun mau pergi. Tapi ditahan Ae Rin.
Ae Rin bilang ia mau menyampaikan sesuatu.
Woo Young tegang.

Bersambung…
Epilog :

Woo Young sedang memilih-milih sepatu wanita.
Seorang pramusaji tiba mendekati Woo Young.
“Kau tiba untuk berbelanja hadiah?”
“Ya. Kau juga mengirim pesanan?”
“Tentu saja.”
“Aku mau sepatu ini ukuran 240 mm.”

Kita beralih ke adegan dimana Da Jung membaca kartu ucapan dari penggemar nomor satunya.
“Aku menjadi penggemar sesudah menyaksikan keyakinan diri dan keberanianmu. Semoga cuma akan ada hal baik untukmu ke depannya. Dari penggemar nomor satumu.”

Da Jung pun menjajal sepatu yang diberikan dari penggemar nomor satunya. Da Jung pikir itu dari Ji Hoon padahal dari Woo Young alias Dae Young.

Tak cuma sepatu, Woo Young juga mengubah bola lampu di teras rumahnya yang nyaris putus.
Saat Da Jung pulang di hari ia mendapatkan kado sepatu, ia pun galau dan bertanya-tanya siapa yang mengubah bola lampunya.
Da Jung masuk ke dalam dan menyaksikan piring-piring sudah bersih. Dia bertanya-tanya siapa yang membersihkannya.

Da Jung juga mendapatkan camilan manis dari Woo Young di atas meja.
Ternyata itu camilan manis favorit Da Jung.

Saat Da Jung tengah menikmati camilan manis favoritnya, ibunya keluar dari kamar.
Da Jung pun eksklusif memeluk ibunya.
“Ini hari yang berat kan?” tanya sang ibu.
“Terima kasih, ibu.”

Sosok Woo Young bermetamorfosis Dae Young. Kita diperlihatkan seolah-seolah Dae Young ada disana, sedang menyaksikan Da Jung yang dipeluk Nyonya Yeo.
Terdengar narasi Dae Young.
“Ada hal-hal yang ingin kamu berikan meski itu mustahil. Jika dipikirkan, mereka tidak sehebat itu. Mereka sungguh kecil dan tidak penting. Kau menilai mereka tidak penting. Tapi hal-hal kecil ini membuatmu tersenyum. Akhirnya saya menyadarinya. Mustahil mengungkapkan perasaan tulusku alasannya sudah terlambat. Tapi saya akan baik-baik saja selama itu membuatmu tersenyum.”