Tentangsinopsis.com – Sinopsis Hush Episode 1 Part 4, Selengkapnya untuk link daftar ada di goresan pena yang ini. Yakin tak ingin lihat dongeng part ketiga? Cek yuk di Episode sebelumnya baca di sini.

Joo An mulai menuntut ilmu menulis judul. Awalnya, judulnya masih tidak menarik.
Lalu Joo An mengubah judulnya dan barulah ia memperoleh sorakan.


Terdengar narasi Joon Hyuk ihwal dirinya.
Joon Hyuk : Orang-orang memanggilku reporter sampah. Ini caraku menjalani hidupku.
Ji Soo geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah Joon Hyuk.


Beberapa hari berlalu. Joon Hyuk di pantry kantornya, mengeluh alasannya yakni tak mendapatkan sesuatu yang sanggup dimakan. Dia kemudian menutup kulkasnya dan cuma mengambil segelas air.
Joon Hyuk mengusut ponselnya dan mendapatkan pesan dari Soo Yeon.
Soo Yeon mengaku punya pertanyaan pribadi dan mengajak Joon Hyuk makan malam.
Joon Hyuk senyum-senyum membaca pesan Soo Yeon, sambil terus mengemut lolipopnya.


Saat mau membalas pesan Soo Yeon, beliau mendapati Ji Soo tengah menatapnya tajam. Sontak senyumnya langsung hilang.

Seseorang menjamah pundak Joon Hyuk dari belakang. Joon Hyuk kaget, menghasilkan Yoon Kyung juga ikut kaget.
Yoon Kyung : Kenapa kamu sungguh terkejut? Merencanakan sesuatu?
Joon Hyuk : Tidak, kamu tidak mengejutkanku.
Yoon Kyung mengajak Joon Hyuk makan.

Yoon Kyung pergi duluan.
Joon Hyuk menoleh lagi ke Ji Soo namun Ji Soo sudah tak menatapnya lagi. Dan beliau pun risau sendiri.


Yoon Kyung dan Joon Hyuk makan di kedai makanan semur ayam pedas.
Joon Hyuk : Kau melatih para pemagang di Meja Kota, bukan?
Yoon Kyung : Pemagang? Ya, saya sudah sibuk dengan anabawang dan mereka memberiku para pemagang.
Joon Hyuk : Oh Soo Yeon seumpama apa dia?

Yoon Kyung : Oh Soo Yeon? Ah, Oh Soo Yeon. Dia permata. Dia memiliki pengalaman terlama dari semua pemagang. Dia sungguh bertekad.
Joon Hyuk : Dia niscaya putus asa. Akhirnya berkesempatan menjadi reporter tetap. Tapi kita akan menghasilkan mereka menyalin dan melekat postingan daring lama.
Yoon Kyung : Ada yang abnormal denganmu. Kau membuatnya juniormu?
Joon Hyuk : Tidak, saya korban terpilih di Meja kami. Editor Um bilang Kepala memilihku sendiri.
Yoon Kyung : Han Joon Hyuk, lelaki yang ambisius. Memilih anabawang untuk diajari dan memuluskan jalannya biar dipromosi seumpama ini.
Joon Hyuk : Diam.


Yoon Kyung : Bagaimana dengan orang yang membicarakan “BAP”?
Joon Hyuk : Lee Ji Soo, dia…


Tepat ketika itu, pesan dari Ji Soo masuk ke ponsel Joon Hyuk.
Ji Soo minta Joon Hyuk berhenti menyebut BAP di depannya.
Joon Hyuk : Dia ingin saya berhenti membicarakan “BAP”.
Ji Soo sendiri bangkit di erat jendela dan cuma makan kimbap.


Jae Eun lewat dan menegur Ji Soo.
Jae Eun : Kau bukan gelandangan. Kita punya ruang istirahat.
Ji Soo : Aku hanya…


Jae Eun mendekati Ji Soo.
Jae Eun : Aku tahu. Sangat mudah bagimu. Aku tak punya waktu untuk makan selaku pemagang. Kini kamu punya banyak waktu, makanan, dan keluhan. Setelah selesai, buka jendelanya dan biarkan udara masuk.
Jae Eun pergi.

Ji Soo membuka jendela. Lalu beliau menaruh kimbapnya di pinggiran jendela dan mengusut ponselnya.
Tapi tak ada respon dari Joon Hyuk.
Ji Soo mau mengirim pesan lagi.
Ji Soo : Jika kamu ingin mengejekku, traktir saya makan dahulu.


Tapi Ji Soo gak jadi mengirimnya.
Ji Soo kemudian menyaksikan bunga liar yang berkembang di tepi jendela. Dia menyentuhnya.


Soo Yeon melintas sambil meneguk airnya dan beliau menyaksikan Ji Soo di jendela.
Soo Yeon mendekati Ji Soo.
Soo Yeon : Makan siang?
Ji Soo nunjukin kimbapnya, ini.

Ji Soo kemudian menyaksikan sepatu Soo Yeon.
Ji Soo : Sepatu baru?
Soo Yeon : Belum usang ini, namun saya menyimpannya. Bagaimana?
Ji Soo : Tampak cantik kamu kenakan.
Ji Soo kemudian memerintahkan Soo Yeon mendekat.
Ji Soo : Lihat ini.
Soo Yeon : Ada apa?


Ji Soo memperlihatkan bunga liar di jendela.
Soo Yeon : Indah.
Ji Soo : Apa namanya? Hanya bunga liar?
Soo Yeon : Pasti sukar mekar di sini. Namai yang bagus.
Ji Soo : Bagaimana dengan bunga Soo Soo?
Soo Yeon : Karena ini indah?
Ji Soo : Bukan. Sesuai nama kita, Ji Soo dan Soo Yeon. Kita yang menemukannya.
Soo Yeon : Bunga Soo Soo, saya menyukainya.

Ji Soo kemudian melongok ke bawah.
Ji Soo : Lebih tinggi dari dugaanku
Soo Yeon : Benar.

Mereka kemudian kembali menyaksikan Bunga Soo Soo.
Soo Yeon : Bunga Soo Soo, kamu cukup mengagumkan. Mari kita siram.
Soo Yeon memperlihatkan setetes air minumnya ke Bunga Soo Soo.
Ji Soo : Aku juga akan melakukannya. Bunga yang tangguh. Mirip denganmu.
Soo Yeon : Benar. Indah sekali.

Malamnya, Soo Yeon bersulang dengan Joon Hyuk.
Soo Yeon kemudian menentukan kalau beliau tidak mengusik Joon Hyuk.
Joon Hyuk pun bilang reporter sampah kelihatannya tidak pernah sibuk.
Soo Yeon : Jangan bilang begitu. Situasinya tidak baik sekarang. Sebenarnya, saya penggemar blogmu.
Joon Hyuk : Blog?
Joon Hyuk kemudian seumpama merasa malu.
Joon Hyuk : Hal memalukan itu? Tolong lupakan itu.


Soo Yeon : Tidak, saya pastikan menjadi reporter sesudah membaca buku harian juniormu.
Joon Hyuk : Aku berdosa besar.
Soo Yeon : Tidak. Kau bilang kamu melaksanakan hal lain sebelum ini?

Joon Hyuk bilang iya dan minta Soo Yeon tidak tertawa.
Sambil tertawa, Joon Hyuk dongeng kalau beliau mengambil jurusan aturan dan ia menjajal cobaan pengacara selama beberapa tahun.
Joon Hyuk : Aku tidak tahu diri.
Tapi Soo Yeon nampak terkesan dengan dongeng Joon Hyuk.
Joon Hyuk kemudian tanya, apa itu yang mau Soo Yeon tanyakan.
Soo Yeon : Tidak, bukan itu.


Soo Yeon meneguk bir nya sebelum bertanya.
Soo Yeon : Sunbae, kamu tahu saya lulusan universitas diluar Seoul?
Joon Hyuk mengangguk.
Soo Yeon : Aku ingin tahu apakah ada reporter sepertiku di Harian Korea.


Joon Hyuk menjawabnya dengan hati-hati.
Joon Hyuk : Begini… Kami jarang menanyakan itu. Sejujurnya, setahuku tidak ada.
Mendengar itu, Soo Yeon kecewa.
Soo Yeon : Baiklah, wilayah ini sama. Aku berupaya sebaik mungkin. Tapi pintu terakhir itu tidak mau terbuka.

Soo Yeon kemudian minta maaf. Dia bilang, beliau tak berniat mengeluh.
Joon Hyuk : Tidak, saya tidak keberatan. Jika itu menolong menetralisir bebanmu, silakan mengeluh dan bergosip. Tapi kamu tahu apa yang mau terjadi.
Soo Yeon nangis. Dia kemudian minta maaf lagi dan berkata, itu potensi terakhirnya.
Soo Yeon : Aku cuma mengejar-ngejar satu impian. Entah apa yang mau kulakukan kalau kali ini gagal. Apa yang mesti kulakukan dengan derma studiku? Aku yang tidak tahu diri.
Soo Yeon minta maaf lagi. Dia bilang beliau tak berniat dan bergegas meniadakan tangisnya.


Entah cuma mau menenangkan Soo Yeon atau beliau memang jujur, beliau bilang menurut Editor Yang dari Meja Kota, Soo Yeon lah yang terbaik dari semua pemagang, namun beliau gak tahu meja lain.
Joon Hyuk : … namun mereka akan berpikiran sama.
Soo Yeon : Benarkah?


Joon Hyuk kemudian minta Soo Yeon melaksanakan yang terbaik hingga akhir.
Joon Hyuk : Kau akan memperoleh imbalan.
Soo Yeon : Terima kasih.
Joon Hyuk : Kata-kataku tidak menjamin posisimu.
Soo Yeon : Aku tahu. Tapi saya bersyukur diakui oleh reporter yang kukagumi. Aku ingin menjadi juniormu kalau bisa.
Mereka kemudian bersulang lagi.


Dan di kedai makanan yang sama, Ji Soo duduk tak jauh dari mereka. Dia meneguk bir nya dengan wajah agak kesal.
Lalu pesenannya, seporsi ayam pedas datang. Dan Ji Soo minta pramusaji membungkusnya.
Pelayan kaget, dibungkus?
Dia kemudian pergi membungkus pesanan Ji Soo.


Ji Soo kemudian beranjak ke meja kasir. Dia memandang Joon Hyuk.


Joon Hyuk yang lagi berbincang-bincang dengan Soo Yeon mengalihkan pandangannya ke arah Ji Soo.
Bersamaan dengan itu, Ji Soo berbalik dan mengambil kemasan ayamnya kemudian pergi.

Joon Hyuk dan Soo Yeon pulang bersama.
Soo Yeon : Terima kasih atas minuman dan kata-kata manisnya.
Joon Hyuk : Aku akan mentraktirmu masakan yang lebih yummy lain kali. Aku tahu semua kedai makanan cantik di kota ini.


Joon Hyuk kemudian berhenti berjalan. Dia mau menyampaikan sesuatu, namun gak jadi dan balasannya cuma meminta Soo Yeon tetap semangat.
Soo Yeon mengerti. Lalu beliau pamit dan beranjak pergi.


Wajah Joon Hyuk secara tiba-tiba sedih, memandang kepergian Soo Yeon.
“Jangan kehilangan semangatmu?” gumamnya.
Joon Hyuk kemudian memandang gedung Harian Korea yang ada di depannya.


Joon Hyuk mencuci mukanya di kamar mandi.
Kepala Na masuk dan mencuci tangannya.
Kepala Na tanya, apa Joon Hyuk ada kencan?
Joon Hyuk bilang enggak.
Kepala Na : Sayang sekali. Berkencanlah, astaga. Kau dihentikan mati sendirian. Wanita lajang sanggup bertahan. Tapi lelaki lajang menjadi menjijikkan.
Sontak Joon Hyuk terdiam dan teringat insiden enam tahun lalu.
Flashback…

Di wilayah yang sama, Joon Hyuk mencengkram Kepala Na dan mendesak Kepala Na ke dinding.
Dia marah. Dia gak habis pikir atas perbuatan Kepala Na. Dia ingin tahu apa imbalan yang Kepala Na terima.

Koran yang dipegang Kepala Na terjatuh ke lantai.
Di koran itu, ada pemberitahuan ihwal Produser Lee Yong Min yang dituduh mendapatkan suap. *Lee Yong Min? Ayah Lee Ji Soo?

Kepala Na bilang, CEO yang mengharapkan itu.
Joon Hyuk : Kau tidak tahu siapa Yong Min? Kenapa pemberitahuan palsu?
Kepala Na : Berita palsu? Pemerintah menekan CEO! Kau tahu CEO MBS diseleksi oleh Presiden!
Joon Hyuk : Lalu kenapa? Kau tidak sanggup melaksanakan apa pun? Kau tidak malu? Dia tidak bersalah. Dan yang terpenting, salah satu keluarga kita…

Kepala Na menampar Joon Hyuk. Lalu beliau bilang setelahnya, insiden itu akan terlalaikan alasannya yakni tertutupi beberapa insiden lainnya.
Kepala Na juga menyebut itu bukan duduk urusan dan tidak akan ada yang tahu kalau mereka diam.
Flashback end…


Kepala Na : Bagaimana latihan para pemagang?
Joon Hyuk bilang tidak ada yang istimewa.
Kepala Na kemudian mengajak Joon Hyuk makan siang kapan-kapan.

Lalu beliau pergi.
Joon Hyuk memandang cermin. Dia kesal, namun tidak berdaya.


Besoknya, Yoon Kyung menghadap Kepala Na.
Ada Je Kwon dan Sung Han juga di sana.
Yoon Kyung memperlihatkan bukti kejahatan Jaksa Go.
Kepala Na : Rencana untuk mengalahkan Jaksa Go tanpa seizinku?
Yoon Kyung : Tidak. Ini belum selesai. Aku berniat menunjukkannya sesudah ini selesai.


Sung Han : Investigasi penuntutan mungkin sudah berakhir.
Je Kwon : Kita tidak sanggup terburu-buru.
Yoon Kyung : Peringkat langganan dan langsung kita sedang berurusan Karena desking yang rusak…
Sung Han : Editor Yang! Kau bukan Editor Meja.
Yoon Kyung : Reliabilitas kita sudah rendah. Kita butuh kehadiran untuk menjaga pengiklan. Hanya nama kita, Harian Korea, yang menghasilkan kita bertahan.
Kepala Na : Baik, tunggulah.
Yoon Kyung menghela nafas, kemudian pergi.


Kepala Na naik lift. Yoon Kyung mengejar-ngejar Kepala Na, namun pintu lift keburu tertutup.
Yoon Kyung menghela nafas mengenali Kepala Na menuju lantai 15.
Joon Hyuk menyaksikan Yoon Kyung.


Joon Hyuk dan Yoon Kyung bicara di atap gedung.
Joon Hyuk : Kau tidak sanggup pergi ke lantai 15 lewat pintu darurat. Kau sanggup mencapainya cuma lewat lift. Tentu, kamu butuh kartu kunci untuk menekan tombol. Dia pergi untuk melapor, bukan menghentikan kisahmu. Jadi, tunggu saja.
Yoon Kyung : Itu belum selesai. Kurasa sudah jelas. Bagaimana beliau sanggup tahu?


Joon Hyuk : Kau sudah menyelesaikan kisahnya, bukan? Narasumbernya niscaya kawan erat juniormu. Kau khawatir narasumbernya palsu. Itu mungkin melukai si junior.
Yoon Kyung : Bodoh. Kau satu-satunya yang memahamiku.

Joon Hyuk : Kau pikir siapa yang membentukku? Kau, Senior, akta asal usulku.
Yoon Kyung : Senior? Itu kisah lama. Semangatku sudah hilang.
Joon Hyuk : Tidak mungkin. Kau satu-satunya reporter yang peduli.
Yoon Kyung : Reporter? Tidak ada reporter sungguhan di sini. Semua orang terjebak di sini demi uang.

Joon Hyuk kembali ke mejanya. Dia membuka lacinya, kemudian mengambil buku kecilnya dan membukanya. Itu yakni catatan lapangannya.
Joon Hyuk : Belum hingga sana. Tidak mungkin.
Dia pun memasukkan catatan lapangannya lagi ke dalam laci dan kemudian pergi.

Joon Hyuk pergi menemui Detektif Kim yang lagi main biliar. Dia menyaksikan meja biliar yang dahulu bolong karenanya.
Joon Hyuk : Ini terlihat lebih baik.
Detektif Kim : Beberapa pertandingan, dan ini sudah seumpama baru. Tidak akan ada yang tahu kalau kita diam.

Narasi Joon Hyuk terdengar.
“Waktu yakni obat, dan membisu yakni emas.”
Lalu beliau ingat kata-kata Kepala Na sesudah insiden itu.

“Setelah beberapa insiden lainnya, itu akan secepatnya terlupakan. Ini bahkan bukan masalah. Tidak akan ada yang tahu kalau kita diam!”
Narasi terus berlanjut.
“Kesalahan dan luka terhapus dalam kenyataan.”

Kita kemudian ditunjukkan flashback, tahun 2009.
Joon Hyuk dan Produser Lee berjumpa di restoran. Joon Hyuk minta maaf dan bilang itu salahnya.
Produser Lee : Apa maksudmu? Aku tahu ini bukan salahmu. Dan saya mengerti Editor Na.
Joon Hyuk : Bagaimana keadaanmu?
Produser Lee : Aku baik-baik saja. Kita mesti menafkahi keluarga. Mari makan. Kau sudah banyak membantuku dan saya tidak pernah mentraktirmu.

Joon Hyuk memerintahkan Produser Lee pulang.
Produser Lee gak mau dan bilang beliau udah sudah biasa difitnah.
Produser Lee : Hanya saya yang menjaga Serikat.
Joon Hyuk : Tapi keluargamu mencemaskanmu.
Produser Lee menepuk2 tangan Joon Hyuk.
Produser Lee : Baik, jangan cemaskan saya dan makanlah. Lebih yummy ketika panas. Tunjukkan rasa hormat pada kokinya.

Tapi ketika makan, wajah Produser Lee terlihat sedih.
Joon Hyuk memandang Produser Lee. Produser Lee berupaya tersenyum, meski beliau sakit.


Malamnya, Produser Lee duduk seseorang diri di stasiun kereta. Dia membaca postingan ihwal dirinya dan juga komentar hujatan.
“MBS Union kalah sesudah permintaan suap Produser Lee Yong Min.”
Orang-orang memperlihatkan komentar jahat. Dia menuduh Produser Lee cuma mengincar uang.
Ada juga yang menyampaikan sudah benar memecat Produser Lee dan Produser Lee mesti di penjara.
Lalu ada yang memerintahkan Produser Lee mati.
Produser Lee pun merasa sesak.

Kereta lewat. Produser Lee dan terdiam memandang kereta yang berlalu di depannya.
Lalu Produser Lee berlangsung ke arah rel.
Tak lama, kereta lain lewat. Produser Lee memandang ke arah kereta sorot mata lelah.


Adegan beralih ke kamar jenazah, dimana Nyonya Kang menangisi mayat Produser Lee yang masih bersimbah darah.
Tak lama, putri mereka yang masih memakai seragam sekolah datang. Dia Lee Ji Soo! Ji Soo frustasi berat menyaksikan ayahnya sudah tiada.

Kamera lantas menyorot ponsel Ji Soo yang memperlihatkan postingan yang ditulis oleh Joon Hyuk.


Sementara Joon Hyuk berupaya naik ke lantai atas, seumpama di permulaan cerita. Sekujur tubuhnya udah berair oleh keringat.
Ji Soo dan ibunya berduka. Mereka terus menangis di ruang duka.

Ternyata lantai yang dituju Joon Hyuk yakni lantai 15. Tapi setibanya di sana, pintunya tak ingin dibuka.
Joon Hyuk murka dan berteriak memerintahkan pintunya dibuka.
Joon Hyuk balasannya terduduk lemas dan menangis hebat.
Narasi Joon Hyuk terdengar.
Joon Hyuk : Tidak cukup berani untuk menyaksikan akhirnya. Jangan berani-berani menjangkau.


Di ruang makan, masih di rumah duka, Ji Soo terduduk lemas di depan meja.
Lalu pramusaji tiba membawakannya nasi dan sup.
Ji Soo teringat wajah ayahnya yang bersimbah darah.
Lalu beliau mempertimbangkan kata-kata ayahnya terakhir kali.
“Maaf, Sayang. Ayah tidak sanggup membawakanmu ayam malam ini.”
Ji Soo lantas mendorong sup nya.

Joon Hyuk masih di lantai 15. Ponselnya berbunyi. Telepon dari istrinya.
Dia tak menjawabnya dan masih menangis.

Ji Soo mulai menyendok nasi ke mulutnya. Hanya nasinya! Dia makan sambil terus menangis.
Joon Hyuk yang juga masih menangis, berupaya mengontak seseorang.
Bersambung…