Tentangsinopsis.com – Sinopsis Start Up Ep 1 Part 4, Silahkan untuk membaca daftar lengkap dari sinopsisnya di goresan pena yang ini. Sebaliknya jangan lewatkan kisah dari Episode sebelumnya baca di sini.

Nenek Choi kesusahan mengangkat dua kaleng besar.
Ji Pyeong datang. Nenek Choi pribadi minta pertolongan Ji Pyeong membantunya mengangkat dua kaleng itu. Tapi Ji Pyeong yang kesal sebab uangnya diambil nenek, berlalu begitu saja dan masuk ke dalam.
Nenek kesal menyaksikan perilaku Ji Pyeong.

Tapi tak usang kemudian, Ji Pyeong keluar lagi. Dia menenteng tasnya kali ini dan mau pergi tanpa pamit pada nenek.
Nenek Choi menghentikan itu.
Nenek : Kau mau kemana.
Ji Pyeong : Seoul.
Nenek : Kenapa tiba-tiba?
Ji Pyeong : Aku diterima di universitas. Terima kasih sudah membantuku.
Nenek : Tetap saja. Kenapa pergi tiba-tiba begini?


Disinilah kemarahan Ji Pyeong meledak. Dia juga tanya, kenapa nenek tiba-tiba begitu padanya.
Jelas si nenek bingung.
Ji Pyeong bilang itu uangnya bukan duit nenek. Rekeningnya memang atas nama nenek namun itu uangnya. Hasil investasi sahamnya.

Nenek : Hebat. Kau jadikan jumlahnya sepuluh kali lipat dalam setahun.
Ji Pyeong kian marah.
“Kau tahu kenyataannya namun tetap begini?”
“Karena itu, kamu mengantarku ke bank? Untuk meminjam namaku?”
Ji Pyeong terdiam. Tapi teringat uangnya diambil nenek, ia pun kembali marah.

Ji Pyeong : Ya! Karena itu saya mengantarmu! Kau tak tahu bingungnya anak yatim piatu seumur aku. Dikeluarkan dari panti asuhan, diberi dua juta won sebab sudah dewasa. Aku mesti hidup dengan duit itu. Bank tidak ingin buka rekening sebab saya masih anak-anak. Aku bukan belum dewasa atau orang dewasa. Konyol sekali. Lalu tiba-tiba ada seorang nenek kurang cendekia muncul. Karena itu, saya mengantarmu. Pikirmu saya begitu sebab berterima kasih? Hal baik menyerupai itu cuma ditangani orang kaya. Percuma saya berbuat baik dan polos. Kau malah mempermainkanku dan menyuruhku menulis surat.
Ji Pyeong kemudian mengumpat dan menyebut dirinya bodoh. Setelah itu, ia minta nenek mengembalikan uangnya, namun nenek malah masuk ke dalam.
Ji Pyeong tambah marah.
Ji Pyeong : Kau mau ke mana? Cari anakmu dan ambil uangnya. Sekarang!

Tapi kemudian nenek keluar lagi menenteng sekantong besar. Nenek menampilkan kantong itu ke Ji Pyeong. Dia bilang, untuk apa ia mencuri duit Ji Pyeong.
Ji Pyeong kaget. Kantong itu berisi uangnya.
Ji Pyeong : Lantas duit yang kamu berikan pada anakmu?
Nenek bilang itu uangnya.
Ji Pyeong pribadi merasa bersalah sebab sudah menuduh nenek. Tapi Ji Pyeong endingnya tetap pergi. Dia pamit pada nenek.

Dal Mi duduk di taman. Dia memandang kotak musik In Jae yang sudah hancur di tangannya. Pipi Dal Mi terluka, sebab berkelahi dengan In Jae tadi.
Ponsel Dal Mi kemudian berdering. Telepon dari ayahnya. Dal Mi mengusap air mata di pipinya.
Dal Mi : Ya, ayah. Bagaimana hasilnya?
Pak Seo bilang ia sanggup investor.
Dal Mi bahagia dan mengucapkan selamat pada ayahnya.

Ayahnya bilang itu gres permulaan.
Pak Seo : Ayah akan berhasil dan menenteng kembali ibu dan In Jae.
Dal Mi bengong mendengarnya.
Pak Seo pikir, diamnya Dal Mi sebab Dal Mi tak percaya padanya.

Dal Mi minta ijin untuk bicara jujur.
Pak Seo bilang, dengarkan perkataan ia dulu.
Pak Seo : Kau akan berganti asumsi sehabis menyimak ayah. Sebenarnya ayah sanggup membayangkan bagaimana dunia ini akan berubah. Kini, banyak orang yang memakai ponsel, ‘kan?
Dal Mi : Ya.
Pak Seo : Bagaimana kalau ponsel itu kian canggih? Kau akan sanggup berfoto dan menyimak musik dari ponsel. Kau juga sanggup pakai internet.
Dal Mi : Sepertinya akan nyaman.
Pak Seo : Hei, itu akan lebih dari sekadar nyaman. Dunia akan berganti drastis.
Pak Seo kemudian bilang alasannya berhenti dari kantor bukan sebab ia dipukuli namun sebab ia mau merencanakan dunia gres itu.
Pak Seo : Bagaimana? Ayah niscaya sukses, ‘kan?
Tapi Dal Mi tetap mau berkata jujur.

Pak Seo : Kau masih tak percaya pada ayah? Ayah….
Dal Mi : Aku percaya. Aku percaya ayah akan sukses.
Pak Seo : Lantas, kenapa kamu terus menangis? Ayah juga menjadi sedih.
Pak Seo mengusap matanya.
Dal Mi : Aku tak menangis. Aku hanya…. mau ayam goreng.

Pak Seo : Jangan khawatir. Ayah akan beli cola juga. Ayam goreng tak mahal. Ayah punya duit untuk belikan itu. Kapan pun kamu mau makan itu, katakan saja.
Dal Mi : Sampai kapan?
Pak Seo : Selamanya. Maka itu, bicarakan saja kalau kamu mau itu. Jangan khawatir.

Dal Mi kemudian ingat kata-kata Do San nya.
Ji Pyeong : Dulu saya tak sadar waktu bersamanya yakni waktu yang berharga. Semua momen bersamanya yakni anugerah. Jadi, saya sudah bulatkan tekad. Aku tak akan mengisi masa sekarang dengan penyesalan lagi.
Pak Seo minta Dal Mi menunggunya. Ia bilang akan membelikan Dal Mi ayam goreng.

Dal Mi : Ayah.
Pak Seo : Ya, kenapa?
Dal Mi : Aku menyayangi ayah.
Pak Seo : Kau menyayangi ayah sebab membelikanmu ayam?
Dal Mi : Tidak. Tak begitu pun saya tetap menyayangi ayah. Ayah tahu saya sungguh menyayangimu, ‘kan?

Pak Seo bengong sejenak. Tangisnya pecah.
Berikutnya, Pak Seo bilang ia tahu Dal Mi sayang padanya.
Pak Seo : Putri ayah tersayang. Ayah juga mencintaimu.

Pak Seo menanti lift terbuka.
Bu Yoon datang. Dia bilang lift yang dinantikan Pak Seo tidak berfungsi dan memerintahkan Pak Seo naik bersamanya pakai lift yang lain.
Bu Yoon : Mari kita bicarakan syarat investasinya pekan depan.
Pak Seo : Baik.
Pak Seo mimisan lagi. Bu Yoon pribadi menampilkan saputangannya.

Bu Yoon : Berbisnis itu sulit, ‘kan?
Pak Seo : Ya, lumayan.
Tapi Pak Seo kemudian meralat ucapannya dan mengakui buka usaha itu sungguh sulit.
Bu Yoon : Kau akan diundang CEO kalau berhasil dan diundang penipu kalau gagal. Bidang ini memang menakutkan.
Pak Seo : Ya, kamu benar. Aku senantiasa jatuh dan hancur. Kuharap bidang ini menyerupai pasir, bukan aspal. Pasti buka usaha akan lebih mudah.
Bu Yoon : Pasir?
Pak Seo : Dulu putriku jatuh di saat naik ayunan dan lututnya luka parah. Jadi, istriku melarangnya untuk naik ayunan lagi. Tapi putriku malah minta kami menebarkan pasir di bawah ayunannya.
Flashback…

Pak Seo menaburkan pasir dibawah dua ayunan.
Salah satu putrinya, tersenyum melihatnya menabur pasir.

Setelah itu, keduanya main ayunan. Tapi putrinya tiba-tiba jatuh.
Pak Seo pribadi turun dari ayunan. Dia cemas, Dal Mi-ya…
Tapi Dal Mi berdiri dan mengusap lututnya yang sarat pasir. Lutut Dal Mi tidak terluka. Dal Mi pun kembali main ayunan.
Pak Seo tersenyum memandang Dal Mi.
Flashback end…


Bu Yoon : Sepertinya ayunan itu sungguh menyenangkan.
Pak Seo : Ya, benar. Dia naik ayunan dengan bahagia sehabis saya tebarkan pasir di bawahnya. Jika bidang ini empuk menyerupai pasir, niscaya saya akan sungguh bahagia dalam berbisnis. Tapi ini terlalu keras dan menakutkan.
Bu Yoon : Aku tahu itu.

Pintu lift terbuka.
Pak Seo pamit dan keluar duluan.
Bu Yoon : Sampai berjumpa pekan depan.
Pak Seo sebelum pergi tanya ke Bu Yoon, apa ada kedai makanan ayam goreng yang yummy didekat sana.

Ji Pyeong duduk sendirian di stasiun.
Tiba-tiba nenek tiba dan membawakannya sepatu baru.
Nenek : Aku senantiasa tak suka menyaksikan sepatumu yang jelek. Jadi, saya belikan yang baru. Coba pakai.
Ji Pyeong : Agar saya merasa bersalah?
Nenek : Apa maksudmu?
Ji Pyeong : Seseorang akan kabur kalau diberikan sepatu. Aku akan kabur dengan sepatu ini, dan menjadi orang kaya. Jauh lebih kaya darimu. Apa kamu tak akan merasa dikhianati?

Nenek gemes dan memasangkan sepatu gres itu ke Ji Pyeong.
Nenek : Pasti merasa begitu. Aku tak akan sanggup tidur sebab marah, tak sanggup makan, dan merasa sungguh iri.
Ji Pyeong : Lantas, bagaimana? Haruskah saya kembalikan duit ini?
Nenek : Anak Baik, kamu memang pembangkang.


Nenek kemudian duduk disamping Ji Pyeong.
Nenek : Berjanjilah kepadaku. Jika kamu nanti sukses…
Ji Pyeong : Jangan begitu. Akan kubayar sekarang. Kau niscaya mau minta banyak nanti.
Nenek : Jangan hubungi saya kalau sukses. Jangan hubungi saya sehabis kamu kaya, menikah, dan hidupmu baik. Aku tidak ingin merasa iri…
Tentu saja Ji Pyeong terhenyak mendengar nenek meminta itu.


Nenek : Namun, hubungi saya kalau kamu susah. Datanglah lagi kalau kamu tidak punya daerah berlindung. Jangan kesusahan sendirian. Kembalilah. Kau tahu daerah kuncinya, ‘kan?
Ji Pyeong mengalihkan pandangannya. Dia tidak ingin nenek tahu ia menahan tangis.


Akhirnya tiba juga waktu Ji Pyeong untuk pergi.
Ji Pyeong mulai melangkah menuju pintu masuk. Tapi kemudian langkahnya berhenti. Ia tanya apa nenek mau sesuatu.
Nenek : Apa? Aku tak sanggup dengar.
Ji Pyeong akibatnya berbalik dan menyampaikan dengan keras.
Ji Pyeong : Katakan permintaanmu. Aku tak sanggup utang akal begini. Kau tahu saya tak suka utang budi. Karena itu, katakan satu permintaanmu.
Nenek : Kubilang saya tak perlu. Cepat naik. Kau mesti terus sehat.

Ji Pyeong pun melangkah lagi ke pintu namun kemudian ia berlari ke pelukan nenek.
Ji Pyeong menangis.

Pak Seo di halte, menanti bus datang. Dia sudah berbelanja ayam goreng. Tak usang bus datang.
Tapi di saat sedang menuju kursinya, ia tiba-tiba saja jatuh dan kemasan ayam gorengnya tercampak ke lantai bus.
Seorang pria, kelihatannya supir bus, membantunya duduk.
Pak Seo mulai tak sanggup bicara normal. Dengan bunyi tersengal, Pak Seo minta lelaki itu mengambilkan ayam gorengnya yang jatuh.

Tangan Pak Seo gemetaran.
Pak Seo resah kenapa tangannya begitu.


Tapi lelaki itu menerka Pak Seo pada biasanya minum.
Pak Seo : Aku… tak minum miras… sama sekali.
“Kau sungguh mabuk.” ucap lelaki itu, kemudian pergi.
Bus mulai melaju.


Dal Mi sudah di rumah. Dia di kamarnya dan memandang kotak musik miliknya.
Terdengar narasi Dal Mi.
“Do San-ah, seringkali saya berpikir. Pada viral semi tahun itu, saya kehilangan banyak hal.

In Jae dan ibunya di pesawat.
In Jae memandang keluar jendela dengan muka muram.
Bu Cha memegang tangan In Jae. In Jae memandang ibunya. Sang ibu tersenyum dan mengangguk padanya. Melihat itu, In Jae pun juga tersenyum.

Ji Pyeong menangis di bus yang melaju ke Seoul.
Dal Mi : Jika tak ada surat darimu, bagaimana jadinya viral semiku? Aku niscaya akan lebih meratapi bunga yang gugur ketimbang bunga yang bermekaran.

Bus yang menenteng Pak Seo, akibatnya tiba di halte tujuan.
Satu per satu, penumpang turun. Tapi Pak Seo tidak. Pak Seo nampak ketiduran.
Pria yang tadi menolong Pak Seo menyaksikan Pak Seo.
“Bisa-bisa ia hingga di halte terakhir.” ucap lelaki itu, kemudian beranjak.

Pak Seo bukannya tidur, namun sudah meninggal.
Bungkus ayam di tangan Pak Seo jatuh ke bawah.

Kamera menyorot tangan Pak Seo yang satunya yang menggenggam ponsel. Di ponselnya, nampak foto ia dan keluarganya.

Bunga sakura berguguran.

Air mata Pak Seo terlihat mengalir dari matanya yang sudah terpejam.

Bus terus melaju menenteng Pak Seo yang sudah tiada.

Kita kembali ke masa sekarang, dimana Dal Mi sedang menulis surat untuk Do San.
Dal Mi bilang, kalau Do San tak ada, niscaya akan menjadi viral semi sarat penyesalan sebab ia mesti melepas orang yang ia cintai tanpa sempat menyampaikan ia mencintainya.
Dal Mi berterima kasih sebab Do San sudah menemaninya viral semi tahun itu.
Dal Mi : Terima kasih untuk suratmu.


Dal Mi kemudian pergi ke area daerah neneknya berdagang dulu.
Tapi masih ada sangkar burung di pohon sakura disana. Dal Mi memasukkan suratnya disana.

Nenek Choi kesusahan membuka jendela food truck nya.
Lalu tiba-tiba seseorang tiba membantunya.
Nenek Choi berterima kasih.

“Ini aku, Nek.” ucap seorang pria.
Nenek menoleh. Pria itu Ji Pyeong.
Nenek terkejut, anak baik?
Nenek kemudian memegang kedua pipi Ji Pyeong.
“Apa kamu sakit? Kau tidak memiliki daerah tinggal?” tanya nenek.
Ji Pyeong menggeleng.

Ji Pyeong kemudian memeluk nenek.
Narasi Dal Mi terdengar lagi.
Dal Mi : Saat itu, saya percaya kamu ada. Sekarang, saya ingin percaya bahwa kamu benar ada, Do San. Aku merindukanmu.

Adegan kemudian berpindah ke suatu rumah atap yang ialah kantor Samsan Tech.


Kamera menyorot dua lelaki muda yang sedang tertidur.

Di dinding, ada foto Do San dan orang tuanya usai menerima medali emas.


Kamera akibatnya menyorot Do San. Do San sedang sibuk menghasilkan jadwal pengenal wajah.
Saat berhasil menghasilkan jadwal itu, Do San senang. Dia teriak, berhasil.
Kedua temannya pribadi bangun. Mereka bahagia jadwal Do San berhasil.
Bersambung….